Berita

Fakta Unik Kebiasaan Pengguna Smartphone AS, dari SMS Orang Sekamar hingga Cek HP 186 Kali Sehari

Dexop.com – Kebiasaan pengguna smartphone AS kembali menjadi sorotan setelah survei terbaru dari Reviews.org mengungkap pola penggunaan ponsel yang kian intens dan, dalam beberapa kasus, terasa tidak lazim. Salah satu temuan paling mencolok adalah fakta bahwa 61% responden mengaku pernah mengirim SMS atau pesan teks kepada orang yang berada di ruangan yang sama. Fenomena ini menegaskan bagaimana ponsel telah menjadi medium komunikasi utama, bahkan ketika komunikasi tatap muka sebenarnya memungkinkan.

Survei yang dilakukan pada kuartal keempat 2025 terhadap 1.000 orang dewasa di Amerika Serikat ini juga mencatat bahwa rata-rata masyarakat AS memeriksa smartphone hingga 186 kali dalam sehari, atau sekitar 10 kali per jam selama waktu bangun. Angka ini memang menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 205 kali per hari, namun paradoksnya, tingkat pengakuan kecanduan justru meningkat.

Intensitas Tinggi, Kesadaran Kecanduan Ikut Naik

Meski frekuensi mengecek ponsel menurun sekitar 9,3%, persentase responden yang mengakui kecanduan smartphone naik menjadi 46%. Data ini menunjukkan bahwa kebiasaan pengguna smartphone AS bukan hanya soal frekuensi, tetapi juga ketergantungan psikologis terhadap perangkat digital.

Kondisi ini tercermin dari kebiasaan pagi hari. Sebanyak 84% responden mengaku mengecek ponsel dalam 10 menit pertama setelah bangun tidur. Bahkan, lebih dari separuh responden mengatakan mereka tidak mampu bertahan lebih dari 24 jam tanpa smartphone. Rasa cemas juga muncul ketika ponsel tidak berada di dekat mereka, menandakan hubungan emosional yang kuat antara pengguna dan perangkatnya.

Smartphone Hadir di Hampir Semua Aktivitas Harian

Survei tersebut memperlihatkan betapa dalamnya penetrasi smartphone dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar 56% responden menggunakan ponsel saat makan malam, 68% saat berada di toilet, dan 40% bahkan menggunakannya ketika sedang berkencan. Dalam konteks keselamatan, temuan bahwa 29% responden masih menggunakan ponsel saat menyetir menjadi perhatian serius, terutama karena angka ini menunjukkan tren peningkatan.

Saat berada di rumah, 87% responden mengaku menggunakan smartphone sambil menonton televisi. Di tempat kerja, 72% karyawan tetap mengakses ponsel mereka, baik untuk keperluan profesional maupun pribadi. Pola ini menunjukkan bahwa kebiasaan pengguna smartphone AS telah mengaburkan batas antara waktu kerja, waktu pribadi, dan waktu istirahat.

SMS Orang Sekamar, Simbol Perubahan Interaksi Sosial

Salah satu data yang paling banyak dibicarakan adalah kebiasaan mengirim pesan ke orang yang berada di ruangan yang sama. Sebanyak 61% responden melakukan hal ini, naik dari 54% pada tahun sebelumnya. Fenomena tersebut mencerminkan pergeseran cara berkomunikasi, di mana pesan teks dianggap lebih praktis, cepat, dan minim konfrontasi dibanding percakapan langsung.

Bagi sebagian orang, mengirim pesan ke orang sekamar dianggap lebih efisien, terutama dalam situasi santai atau ketika tidak ingin mengganggu aktivitas orang lain. Namun di sisi lain, kebiasaan ini juga memicu kekhawatiran mengenai berkurangnya interaksi sosial langsung di masyarakat modern.

Perbedaan Generasi dalam Pola Penggunaan

Survei Reviews.org juga menyoroti perbedaan mencolok antar generasi. Generasi Z tercatat sebagai kelompok dengan durasi penggunaan terlama, rata-rata lebih dari empat jam per hari. Milenial berada di posisi berikutnya, dengan tingkat respons notifikasi yang tinggi. Sementara itu, generasi Boomer menunjukkan durasi penggunaan paling rendah, sekitar dua jam per hari.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebutuhan sosial, pekerjaan, hingga kenyamanan visual. Ukuran layar, antarmuka aplikasi, dan kebiasaan digital sejak usia muda turut membentuk kebiasaan pengguna smartphone AS di masing-masing kelompok usia.

Paket Data Tak Terbatas, Tapi Tetap Habis

Menariknya, meski 83% responden menyatakan menggunakan paket data tak terbatas, sekitar 27% mengaku tetap kehabisan kuota setiap bulan. Hal ini mengindikasikan dua kemungkinan: penggunaan data yang jauh lebih tinggi dari perkiraan, atau kurangnya pemahaman detail paket layanan yang mereka gunakan.

Kecemasan terhadap baterai juga menjadi bagian dari pola perilaku ini. Empat dari sepuluh responden mengaku mulai merasa gelisah ketika baterai ponsel turun di bawah 20%. Fenomena “low battery anxiety” ini semakin menegaskan ketergantungan emosional terhadap smartphone.

Tantangan dan Sinyal Positif

Di tengah tingginya intensitas penggunaan, survei ini juga mencatat beberapa sinyal positif. Persentase responden yang langsung mengecek notifikasi dalam lima menit setelah pesan masuk menurun dibanding tahun sebelumnya. Namun, peningkatan penggunaan ponsel di toilet dan saat berkendara tetap menjadi tantangan yang belum terselesaikan.

Temuan ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana teknologi membentuk perilaku sosial. Kebiasaan pengguna smartphone AS tidak lagi sekadar soal alat komunikasi, melainkan telah menjadi bagian dari identitas, rutinitas, dan bahkan kenyamanan psikologis masyarakat modern.

Survei ini dilakukan melalui Pollfish dengan margin of error ±4% pada tingkat kepercayaan 95%, dan data telah disesuaikan berdasarkan usia, jenis kelamin, serta wilayah sensus. Hasilnya memberikan gambaran komprehensif tentang relasi manusia dan teknologi di era digital, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan dalam penggunaan perangkat pintar di kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button